Fakultas Pertanian Universitas Riau (FP UNRI) jadikan Desa Temiang, Kecamatan Bandar Laksamana, Kabupaten Bengkalis sebagai desa binaan kampus, dengan melibatkan dosen dan mahasiswa dari Program Studi (prodi) Agroteknologi.

Sebagai Langkah awal dalam bentuk komitmen jangka panjang,diadakanlah Workshop dengan tema “Agroforestry Budidaya Tumpang Sari Kopi di Kebun Sawit”, yang dilaksanakan pada 28-29 Oktober 2025. Inisiatif ini digagas oleh Yayasan Gambut bekerja sama dengan Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) serta melibatkan para akademisi dari UNRI, dengan tujuan memperkenalkan pola tanam tumpeng sari yang ramah lingkungan sekaligus meningkatkan produktivitas lahan perkebunan.

Wakil Dekan bidang Kemahasiswaan, Kerjasama dan Alumni FP UNRI, Dr. M. Amrul Khoiri, SP., M.P., yang turut hadir sebagai pembicara dalam kegiatan tersebut. Ia melihat potensi besar Desa Temiang untuk dijadikan pilot project budidaya kopi di lahan sawit, sekaligus sebagai Desa Binaan FP UNRI.

“Desa ini berada di kawasan hutan lindung. Harapan saya, hutan ini tetap terjaga, namun di sisi lain lahan juga bisa dimanfaatkan secara produktif melalui sistem budidaya yang efisien. Melalui inovasi sistem Agroforestry Budidaya Tumpang Sari Kopi di Kebun Sawit, para petani kini mulai melihat peluang baru di sela-sela rimbunnya tanaman sawit.,” ujar Dr. Amrul.

Menurutnya, tanaman kopi bukan hanya memiliki nilai ekonomi yang menjanjikan, tetapi juga menjadi simbol kearifan lokal masyarakat Bengkalis. “Kopi ini bukan sekadar untuk diminum, tapi punya cerita tersendiri. Ia bisa tumbuh di dataran rendah dan menjadi tanaman sela yang ideal di antara sawit. Selain itu, kopi punya nilai tambah ekonomi yang kuat dan bisa jadi identitas desa,” tambahnya.

Dalam workshop tersebut, Yayasan Gambut dan BPDP memberikan pendampingan teknis mulai dari tata cara budidaya, rekayasa lingkungan, hingga pengaturan jarak tanam antara kopi dan sawit. Dr. Amrul juga menekankan pentingnya teknik pemangkasan dengan sistem piramida terbalik agar pertumbuhan kopi lebih optimal dan produktif.

Tanggapan positif pun diberikan oleh Dekan FP UNRI, Dr. Ahmad Rifai, S.P., M.P, yang menyampaikan bahwa menjadikan Desa Temiang sebagai Desa Binaan FP UNRI menjadi sangat penting untuk mendukung peningkatan mutu kegiatan pendidikan, penelitian dan pengabdian masyarakat bagi kampus.

“Dosen dan mahasiswa dapat berperan aktif dalam Desa Binaan sehingga dampak keberadaan kampus semakin terasa bagi masyarakat. FP UNRI berkominmen untuk terus menunjukkan dampaknya bagi masyarakat dan daerah dalam pembangunan pertanian dan ekonomi masyarakat perdesaan serta kepedulian dalam pelestarian lingkungan. Kami memiliki jargon "kolaboratif berdampak" untuk mengajak semua pihak ikut serta mewujudkan pembangunan pertanian, masyarakat dan lingkungan yang semakin memberikan dampak ekonomi,” ujar Dr. Ahmad.

Langkah konkret kerja sama antara Fakultas Pertanian UNRI dan pemerintah Desa Temiang telah diwujudkan melalui Perjanjian Kerjasama (MoA) dan juga dilaksanakannya Implementasi Agreement (IA) antara Prodi Agroteknologi dengan Desa Tamiang. Harapannya, sistem tumpang sari kopi-sawit ini dapat meningkatkan pendapatan petani tanpa harus merusak hutan. Sistem ini juga dinilai lebih ramah tenaga kerja, karena proses panennya tidak seberat sawit, sehingga dapat dilakukan oleh kalangan orang tua maupun lanjut usia.(E.Ryan)